MARKET · DELAY 15 MINS
AUDIDRRp12.621 0,00%
JPYIDRRp112 0,00%
SGDIDRRp13.974 0,00%
USDIDRRp17.829 0,00%
AALIRp7.750 +0,65%
ADMRRp1.635 -2,39%
ADRORp2.560 -0,39%
AHAPRp106 -1,85%
AMMNRp4.140 -2,59%
ANTMRp3.030 -2,26%
ASIIRp4.730 -1,25%
BBCARp6.300 0,00%
BBNIRp3.560 -0,84%
BBRIRp3.080 0,00%
BFINRp910 -2,15%
BIPIRp150 -0,66%

Tok! Bank Indonesia Tahan BI Rate 5,75% pada Agustus 2026, Fokus Jaga Rupiah dan Inflasi

Bank Indonesia resmi menahan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75% pada RDG 18-19 Agustus 2026 guna menjaga stabilitas Rupiah dan inflasi. Cek dampaknya ke IHSG.

Tok! Bank Indonesia Tahan BI Rate 5,75% pada Agustus 2026, Fokus Jaga Rupiah dan Inflasi

Jakarta, Redaksi BeritaSaham.id - Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75%. Keputusan ini diambil melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 18–19 Agustus 2026.

Selain menahan suku bunga acuan utama, bank sentral juga menetapkan suku bunga Deposit Facility tetap dan suku bunga Lending Facility pada posisi yang sama. Keputusan ini sejalan dengan ekspektasi mayoritas konsensus pasar yang memprediksi bahwa Bank Indonesia belum akan melonggarkan kebijakan moneternya di tengah dinamika ekonomi global saat ini.

Alasan Utama BI Tahan Suku Bunga:

  • Stabilitas Nilai Tukar: Langkah ini diambil sebagai pre-emptive dan forward looking untuk memastikan stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
  • Pengendalian Inflasi: Kebijakan moneter tetap diarahkan untuk memastikan inflasi berada dalam sasaran target yang ditetapkan pemerintah pada tahun 2026.
  • Keseimbangan Pertumbuhan: BI terus memonitor ketahanan ekonomi domestik yang masih solid agar laju pertumbuhan ekonomi tidak terganggu oleh fluktuasi nilai tukar.

Kebijakan ini mengindikasikan bahwa BI masih bersikap pro-stability terhadap nilai tukar, namun tetap memberikan ruang akomodatif melalui makroprudensial untuk mendorong penyaluran kredit perbankan ke sektor riil.

Bagi investor ritel di pasar modal, keputusan untuk menahan suku bunga pada level 5,75% memberikan kepastian arah kebijakan moneter dalam jangka pendek. Stabilitas nilai tukar Rupiah akan menjadi katalis positif untuk menjaga selera risiko (risk appetite) investor, khususnya aliran dana asing (foreign capital inflow) ke pasar saham maupun obligasi domestik.

Ringkasan Fakta

  • Hasil RDG: BI-Rate ditahan pada level 5,75%.
  • Tanggal Berlaku: Ditetapkan berdasarkan RDG BI periode 18-19 Agustus 2026.
  • Fokus Kebijakan: Menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memastikan inflasi tetap terkendali sesuai target.
  • Sentimen Pasar: Keputusan sesuai dengan prediksi mayoritas ekonom dan institusi keuangan yang tidak mengekspektasikan pemangkasan atau kenaikan.
Terkena Dampak Positif

Saham yang berpotensi diuntungkan, menurut interpretasi redaksi atas berita ini.

BBCABank Central Asia Tbk.
Rp6.300 0,00%
BBRIBank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Rp3.080 0,00%
BBNIBank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
Rp3.560 -0,84%
BMRIBank Mandiri (Persero) Tbk.
Rp4.140 -0,24%

Arah harga hari ini bisa berbeda dari interpretasi redaksi. Pasar mencerminkan banyak faktor, bukan cuma satu berita ini.

Terkena Dampak Negatif

Saham yang berpotensi tertekan, menurut interpretasi redaksi atas berita ini.

INDFIndofood Sukses Makmur Tbk.
Rp7.275 -1,02%
ICBPIndofood CBP Sukses Makmur Tbk.
Rp7.675 +0,66%
MYORMayora Indah Tbk.
Rp1.650 -1,49%

Daftar ini merupakan penilaian arah dari redaksi, bukan janji harga akan terus bergerak ke arah tersebut.

✎ Opini Redaksi

Keputusan BI menahan suku bunga acuan sudah priced-in (diantisipasi) oleh pelaku pasar. Fokus investor ke depan tidak lagi sekadar pada level suku bunga, melainkan pada kejelasan pivot suku bunga The Fed di tingkat global. Kondisi ini memberikan bantalan bagi IHSG, karena stabilitas Rupiah terjamin tanpa harus mengorbankan momentum pemulihan daya beli masyarakat secara drastis.

Analisis ini adalah pembacaan redaksi atas sebuah berita, dan bukan merupakan saran investasi atau rekomendasi membeli maupun menjual saham tertentu. Harga yang ditampilkan bersifat tertunda dan dapat berbeda dari harga riil di pasar.