Jakarta, Redaksi BeritaSaham.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana merombak struktur perdagangan secara fundamental dengan menghapus batas harga minimum saham Rp50 (saham gocap). Melalui rancangan "BEI Rp1 Rule", batas bawah harga saham di pasar reguler dan tunai akan diturunkan menjadi Rp1.
Langkah ini disiapkan untuk memperluas price discovery, meningkatkan fleksibilitas transaksi, dan memperbaiki likuiditas, terutama untuk saham-saham berharga rendah. Berdasarkan dokumen rencana implementasi BEI, aturan baru ini ditargetkan berlaku efektif (Target Live) pada 7 September 2026, setelah melalui serangkaian tahap uji coba sistem.
Penyesuaian Auto Rejection (ARA dan ARB)
Seiring dengan perubahan batas harga minimum, BEI juga akan menyesuaikan persentase Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB). Untuk rentang harga terbawah, BEI akan menggunakan penyesuaian berbasis nominal, bukan lagi persentase, agar pergerakan harga lebih proporsional dan tidak terlalu ketat.
Berikut adalah rincian aturan ARA dan ARB terbaru yang diusulkan:
- Rentang Harga Rp1 - Rp10: ARA dan ARB dibatasi pergerakan nominal sebesar Rp1.
- Rentang Harga Rp11 - Rp200: ARA maksimal 35% dan ARB maksimal 15%.
- Rentang Harga Rp201 - Rp5.000: ARA maksimal 25% dan ARB maksimal 15%.
- Rentang Harga > Rp5.000: ARA maksimal 20% dan ARB maksimal 15%.
Reformasi Papan Pemantauan Khusus (FCA)
Aturan saham Rp1 BEI ini juga sejalan dengan reformasi Papan Pemantauan Khusus (FCA). BEI berencana menghapus kriteria FCA yang tidak berbasis fundamental (non-fundamental).
Beberapa kriteria yang akan direvisi atau dihapus antara lain:
- Kriteria harga rata-rata di bawah Rp51 dengan likuiditas rendah dalam tiga bulan terakhir.
- Kriteria di mana harga masih di bawah Rp50, meskipun emiten tersebut sudah tidak memenuhi kriteria FCA lainnya.
Penyesuaian ini diharapkan dapat membuka peluang lebih besar bagi saham-saham di FCA untuk kembali masuk ke papan perdagangan continuous auction, sehingga transaksi pasar menjadi lebih transparan dan sering terjadi.
Dampak Pasar dan Kasus Saham GOTO
BEI mengestimasikan implementasi batas harga Rp1 dapat meningkatkan frekuensi dan nilai transaksi pasar hingga 2 sampai 3 kali lipat pada saham berharga rendah. Distorsi akibat floor price yang terlalu tinggi dinilai akan berkurang, sehingga keseimbangan pasokan dan permintaan (supply and demand) lebih mencerminkan valuasi sebenarnya.
Salah satu studi kasus paling relevan dalam aturan ini adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Saat ini, saham GOTO tertahan di batas bawah Rp50 dengan antrean jual yang pernah mencapai sekitar 248,4 juta lot pada 13 Agustus 2026. Hal ini menyebabkan GOTO dikeluarkan dari indeks MSCI pada Agustus 2026 akibat masalah likuiditas dan index replicability.
Jika batas Rp50 dilepas, GOTO berpotensi menemukan level keseimbangan harga (equilibrium) baru yang lebih murni didorong oleh kekuatan pasar. Hal ini juga memberikan ruang pergerakan yang lebih fleksibel, terlebih GOTO saat ini memiliki restu untuk melakukan buyback saham senilai Rp3,5 triliun yang berlaku hingga 18 Juni 2027.
Jadwal Implementasi
Saat ini, aturan tersebut masih dalam tahap penyempurnaan (rule-making process). BEI telah menyusun linimasa uji coba sebelum peluncuran resmi:
- 22 Agustus 2026 (Mock 1): Uji coba internal sistem dan mekanisme perdagangan.
- 29 Agustus 2026 (Mock 2): Pengujian lanjutan dengan skenario pasar yang lebih luas.
- 5 September 2026 (Pre-Live): Simulasi akhir sebelum implementasi resmi.
- 7 September 2026 (Target Live): Implementasi penuh BEI Rp1 Rule di pasar reguler dan tunai.
Investor diimbau untuk tetap mencermati likuiditas dan melakukan analisis fundamental mendalam, mengingat volatilitas pada saham berharga sangat rendah akan meningkat secara signifikan.
Ringkasan Fakta
- BEI berencana mengubah batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1.
- Batas pergerakan harga (ARA/ARB) untuk saham Rp1 - Rp10 akan menggunakan nominal Rp1, bukan persentase.
- BEI akan menghapus kriteria non-fundamental dari Papan Pemantauan Khusus (FCA), mempermudah saham dengan fundamental baik keluar dari FCA.
- Estimasi BEI menunjukkan kebijakan ini dapat meningkatkan frekuensi dan nilai transaksi saham berharga rendah hingga 2 - 3 kali lipat.
- Saham GOTO menjadi studi kasus utama; pelepasan batas Rp50 dapat membebaskan antrean jual raksasa dan membuka ruang price discovery yang lebih wajar.
- Aturan ini ditargetkan berlaku efektif (Live) pada 7 September 2026.
Saham yang berpotensi tertekan, menurut interpretasi redaksi atas berita ini.
Daftar ini merupakan penilaian arah dari redaksi, bukan janji harga akan terus bergerak ke arah tersebut.
Rencana penghapusan batas bawah saham Rp50 merupakan reformasi struktural yang berpotensi menyelesaikan masalah likuiditas semu di dasar pasar. Dengan membiarkan harga turun hingga Rp1, mekanisme pasar akan bekerja lebih transparan dalam membedakan emiten berfundamental buruk dengan emiten yang sekadar terjebak masalah likuiditas. Meskipun dalam jangka pendek dapat memicu kepanikan akibat koreksi harga pada saham gocap, kebijakan ini krusial untuk menciptakan penemuan harga (price discovery) yang sehat dalam jangka panjang.
Analisis ini adalah pembacaan redaksi atas sebuah berita, dan bukan merupakan saran investasi atau rekomendasi membeli maupun menjual saham tertentu. Harga yang ditampilkan bersifat tertunda dan dapat berbeda dari harga riil di pasar.