Jakarta, Redaksi BeritaSaham.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan tekanan keras kepada bank sentral AS (The Fed) untuk segera memangkas suku bunga acuan menyusul rilis data tenaga kerja yang melampaui ekspektasi.
Dalam unggahannya pada platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa penambahan 162.000 lapangan kerja pada bulan Agustus merupakan indikasi kuatnya fundamental ekonomi negara tersebut. Ia berpendapat bahwa negara yang kuat secara ekonomi seharusnya memiliki profil kredit yang lebih baik dan menikmati biaya pinjaman yang lebih rendah.
Ancaman Perdagangan dan Tekanan Kebijakan
- Ancaman Pemutusan Perdagangan: Trump secara terbuka mengancam akan menghentikan aktivitas perdagangan dengan negara-negara yang memiliki surplus terhadap AS apabila The Fed menolak menurunkan suku bunga.
- Intervensi Terbuka The Fed: Ia mendesak jajaran dewan The Fed dan pimpinan barunya untuk bersikap "pintar" dan bertindak sebagai patriot dengan memangkas biaya pinjaman yang dinilai sangat merugikan posisi AS di pasar global.
- Klaim Wewenang Absolut: Trump mengklaim bahwa Mahkamah Agung AS telah memberikannya hak absolut untuk menghentikan perdagangan, sebuah langkah yang ia nilai jauh lebih efektif dibandingkan kebijakan tarif.
Paradoks Makroekonomi
Secara teori makroekonomi, data ketenagakerjaan yang berada jauh di atas ekspektasi umumnya mendorong bank sentral untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga guna mencegah lonjakan inflasi. Namun, Trump justru menggunakan momentum data tenaga kerja yang solid ini untuk menuntut penerapan suku bunga terendah di dunia, seperti di masa lalu.
Saham yang berpotensi diuntungkan, menurut interpretasi redaksi atas berita ini.
Arah harga hari ini bisa berbeda dari interpretasi redaksi. Pasar mencerminkan banyak faktor, bukan cuma satu berita ini.
Saham yang berpotensi tertekan, menurut interpretasi redaksi atas berita ini.
Daftar ini merupakan penilaian arah dari redaksi, bukan janji harga akan terus bergerak ke arah tersebut.
Tekanan politik yang agresif terhadap The Fed berpotensi merusak kredibilitas independensi bank sentral AS di mata investor global. Realisasi ancaman pemutusan perdagangan dapat memicu syok pada rantai pasok global dan memicu aksi jual pada aset-aset berisiko.
Analisis ini adalah pembacaan redaksi atas sebuah berita, dan bukan merupakan saran investasi atau rekomendasi membeli maupun menjual saham tertentu. Harga yang ditampilkan bersifat tertunda dan dapat berbeda dari harga riil di pasar.