Jakarta, Redaksi BeritaSaham.id - Lembaga penyedia indeks global independen, FTSE Russell, memutuskan untuk kembali menahan status pasar modal Indonesia dan menunda evaluasi (review) penuh terhadap saham-saham di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pembaruan selanjutnya terkait status pasar saham Indonesia dijadwalkan baru akan diumumkan menjelang periode review Desember 2026.
Alasan FTSE Menahan Status Indonesia
Penundaan ini mencakup pembekuan sementara terhadap penambahan konstituen baru (inclusions), penyesuaian kenaikan rasio saham publik (free float), hingga promosi segmen kapitalisasi saham. FTSE Russell menyatakan bahwa langkah teknis ini diambil untuk memberikan periode pengamatan yang lebih panjang guna mengevaluasi efektivitas reformasi pasar modal yang sedang diimplementasikan oleh otoritas di Indonesia.
Beberapa regulasi yang masih menjadi sorotan utama investor global mencakup aturan keterbukaan data kepemilikan saham di atas 1 persen, publikasi daftar emiten dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC), serta ketersediaan likuiditas saham yang optimal. FTSE beralasan, tanpa data yang transparan, memaksakan perombakan indeks berisiko memicu volatilitas harga yang tidak efisien di pasar.
Banyak Saham Terdepak pada Rebalancing September 2026
Meski jalur promosi ditangguhkan, aktivitas penurunan kelas saham (downgrade) dan pencoretan (deletions) tetap diberlakukan secara ketat. Pada implementasi rebalancing indeks periode September lalu, puluhan saham Indonesia telah menjadi korban koreksi bobot:
- Turun ke Micro Cap: Saham BSDE terdegradasi dari Mid Cap. Sementara BBYB, BJBR, BTPS, LPKR, LPPF, MNCN, PNLF, SMRA, SCMA, dan SILO turun kasta dari segmen Small Cap.
- Pencoretan (Exclusions): Sebanyak 28 saham didepak sepenuhnya dari FTSE Micro Cap, termasuk emiten BUMN Karya seperti ADHI dan PTPP karena gagal memenuhi ambang batas investable market cap.
Dengan diperpanjangnya masa jeda ini, aliran dana asing (capital inflow) dari manajer investasi pasif global diproyeksikan akan cenderung berhati-hati masuk ke pasar domestik hingga ada kepastian status di akhir tahun. Namun, aktivitas korporasi rutin seperti pembagian dividen dan akuisisi emiten akan tetap berjalan normal tanpa hambatan.
Langkah konservatif FTSE Russell mencerminkan kehati-hatian investor institusi global terhadap transparansi likuiditas riil di pasar saham domestik. Tertahannya potensi inflow ini membuat pergerakan IHSG dalam jangka pendek akan lebih mengandalkan fundamental makro ekonomi dibandingkan sentimen indeks global.
Analisis ini adalah pembacaan redaksi atas sebuah berita, dan bukan merupakan saran investasi atau rekomendasi membeli maupun menjual saham tertentu. Harga yang ditampilkan bersifat tertunda dan dapat berbeda dari harga riil di pasar.