MARKET · DELAY 15 MINS
AUDIDRRp12.567 0,00%
JPYIDRRp114 0,00%
SGDIDRRp14.065 0,00%
USDIDRRp17.984 0,00%
AALIRp8.275 +6,09%
ADMRRp1.210 +11,52%
ADRORp2.400 +8,60%
AHAPRp53 +6,00%
AMMNRp3.730 +7,18%
ANTMRp2.740 +10,48%
ARCIRp1.005 +5,24%
ARTORp590 +0,85%
ASIIRp4.500 +8,96%
BBCARp5.200 +7,88%
BBNIRp3.220 +8,78%
BBRIRp2.790 +9,84%

Suku Bunga Bank Indonesia Diproyeksi Naik 25 Bps Besok

Suku bunga Bank Indonesia diproyeksi naik 25 bps jadi 6% besok dan berpeluang ke 6,25% jika The Fed kembali menaikkan bunga pada Desember 2026.

Suku Bunga Bank Indonesia Diproyeksi Naik 25 Bps Besok

Jakarta, Redaksi BeritaSaham.id - Suku bunga Bank Indonesia (BI-Rate) diproyeksikan mengalami kenaikan sebesar 25 basis poin (bps) dari level 5,75% menjadi 6,00% dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan pada Rabu, 21 Oktober 2026. Langkah pengetatan moneter ini dinilai semakin mendesak menyusul tekanan beruntun terhadap nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah, serta risiko arus keluar modal asing (capital outflow) pasca-pengumuman konsultasi reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Lebih lanjut, apabila bank sentral AS (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan Desember 2026, Bank Indonesia diperkirakan berpotensi kembali mengerek BI-Rate sebesar 25 bps menuju level 6,25% pada akhir tahun.

Probabilitas Kenaikan BI-Rate Oktober 2026 Mencapai 63,11%

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa skenario kenaikan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 6,00% pada RDG 20-21 Oktober 2026 kini menjadi opsi yang jauh lebih kuat dibandingkan mempertahankan suku bunga. Berdasarkan hasil estimasi model probabilistik terbaru, peluang Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan mencapai 63,11%, sementara probabilitas suku bunga ditahan di level 5,75% tercatat sebesar 34,69%, dan peluang penurunan suku bunga hanya 2,20%. Padahal sebelumnya, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps sepanjang periode Mei hingga Juni 2026 dan menahannya di level 5,75% hingga September 2026.

Perubahan proyeksi para ekonom dipicu oleh dinamika pasar keuangan domestik yang mengalami tekanan signifikan dalam sepekan terakhir. Sejumlah indikator ekonomi dan pasar keuangan yang menjadi pertimbangan utama meliputi:

  • Pelemahan Nilai Tukar Rupiah: Kurs rupiah di pasar spot sempat melemah selama empat hari beruntun dan bergerak di kisaran Rp18.026 hingga Rp18.063 per dolar AS pada 16-20 Oktober 2026, atau terdepresiasi sekitar 8% sepanjang tahun berjalan (year-to-date).
  • Lonjakan Yield SBN: Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak ke level 7,36%, mengindikasikan bahwa peningkatan persepsi risiko investor telah merembet dari pasar ekuitas ke pasar surat utang negara.
  • Tekanan Indeks Saham dan Sentimen MSCI: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi tajam lebih dari 5% ke level 4.923 akibat kekhawatiran pasar terhadap langkah MSCI yang membuka konsultasi publik terkait potensi penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
  • Indikator Inflasi dan Transaksi Berjalan: Inflasi tahunan pada September 2026 tercatat naik ke level 3,28% (year-on-year/yoy), mendekati batas atas target BI di kisaran 1,5%-3,5%, dengan inflasi inti di level 2,84% yoy. Sementara itu, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada kuartal II-2026 tercatat mencapai 3,34% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Efek Domino Suku Bunga The Fed Desember 2026 dan Skenario 6,25%

Selain merespons gejolak domestik pada Oktober 2026, arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia hingga penutupan tahun sangat bergantung pada langkah Federal Reserve (The Fed). Setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps ke rentang 3,75%-4,00%, konsensus pasar memperkirakan bank sentral AS tersebut masih berpeluang melakukan satu kali lagi kenaikan sebesar 25 bps pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Desember 2026.

Lead Economist Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz, memproyeksikan bahwa setelah menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 6,00% pada RDG Oktober 2026, Bank Indonesia berpotensi kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 bps hingga mencapai 6,25% pada akhir 2026. Proyeksi serupa disampaikan oleh Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, yang menilai ruang kenaikan BI-Rate hingga akhir tahun berkisar antara 25 bps hingga 50 bps guna mengantisipasi langkah The Fed dan risiko imported inflation akibat tingginya harga minyak dunia. Bahkan, lembaga keuangan global Citibank turut merevisi proyeksinya dengan memperkirakan BI dapat menaikkan suku bunga hingga 50 bps menuju level 6,25% untuk meredam tekanan eksternal.

Menurut perhitungan Irman Faiz, Indonesia membutuhkan selisih imbal hasil (yield spread) aset domestik yang tetap kompetitif terhadap aset berdenominasi dolar AS guna menjaga aliran modal asing, mengingat proyeksi defisit transaksi berjalan sepanjang 2026 berada di level 1,5% dari PDB dan meningkat menjadi 1,6% pada 2027. Apabila skenario reklasifikasi MSCI benar-benar terealisasi, potensi aliran modal keluar dari pasar saham Indonesia diestimasi mencapai US$2,9 miliar hingga US$5,8 miliar.

Langkah Intervensi dan Bauran Kebijakan Bank Indonesia

Menghadapi volatilitas global dan situasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama (higher for longer), Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan bahwa otoritas moneter terus mengoptimalkan seluruh instrumen bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah. Bank Indonesia secara aktif melakukan intervensi triple intervention di pasar valuta asing melalui transaksi spot, Non-Deliverable Forward (NDF), serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Selain instrumen suku bunga, BI juga melanjutkan pemberian insentif biaya lindung nilai (hedging) yang telah diimplementasikan sejak akhir Juni 2026. Kebijakan tersebut tercatat berhasil menarik aliran modal masuk (inflow) dari transaksi swap dan DNDF sekitar US$8 miliar hingga US$9 miliar. Dengan posisi cadangan devisa sebesar US$146,3 miliar, serta pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 5,29% yoy dan pertumbuhan kredit perbankan Agustus 2026 sebesar 13,65% yoy, otoritas moneter menegaskan komitmennya untuk menjaga kepercayaan investor terhadap aset keuangan domestik. RDG Bank Indonesia terakhir untuk tahun ini dijadwalkan berlangsung pada 15-16 Desember 2026.

Ringkasan Fakta

  • Jadwal dan Proyeksi RDG Oktober: Bank Indonesia menggelar RDG pada 20-21 Oktober 2026 dengan proyeksi kuat kenaikan BI-Rate sebesar 25 bps dari 5,75% menjadi 6,00%.
  • Probabilitas Kebijakan: Estimasi model probabilistik Bank Permata menunjukkan peluang kenaikan BI-Rate sebesar 63,11%, peluang ditahan 34,69%, dan peluang dipangkas 2,20%.
  • Proyeksi Desember 2026: Jika The Fed kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada Desember 2026, BI berpotensi kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menuju level 6,25% pada RDG 15-16 Desember 2026.
  • Pemicu Tekanan Pasar: Nilai tukar rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS, yield SBN 10 tahun naik ke 7,36%, dan IHSG terkoreksi menyusul pengumuman konsultasi reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI dengan estimasi risiko outflow bersyarat US$2,9 miliar hingga US$5,8 miliar.
  • Indikator Makroekonomi: Inflasi September 2026 naik ke 3,28% yoy (inflasi inti 2,84% yoy), pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 tercatat 5,29% yoy, pertumbuhan kredit Agustus 2026 sebesar 13,65% yoy, dan cadangan devisa berada di level US$146,3 miliar.
Terkena Dampak Positif

Saham yang berpotensi diuntungkan, menurut interpretasi redaksi atas berita ini.

BBCA Bank Central Asia Tbk.
Rp5.200 +7,88%
BMRI Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Rp3.690 +9,82%

Arah harga hari ini bisa berbeda dari interpretasi redaksi. Pasar mencerminkan banyak faktor, bukan cuma satu berita ini.

Terkena Dampak Negatif

Saham yang berpotensi tertekan, menurut interpretasi redaksi atas berita ini.

CTRA Ciputra Development Tbk.
Rp545 +4,81%
BSDE Bumi Serpong Damai Tbk.
Rp474 +7,24%
SMRA Summarecon Agung Tbk.
Rp244 +10,91%

Daftar ini merupakan penilaian arah dari redaksi, bukan janji harga akan terus bergerak ke arah tersebut.

✎ Opini Redaksi

Proyeksi kenaikan BI-Rate sebesar 25 bps pada Oktober 2026 serta potensi kenaikan lanjutan pada Desember 2026 mencerminkan pergeseran fokus kebijakan moneter Bank Indonesia untuk memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dan menahan arus keluar modal asing di tengah tekanan yield SBN dan sentimen MSCI. Meskipun pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit domestik masih solid, pelebaran defisit transaksi berjalan menuntut BI menjaga selisih imbal hasil (yield spread) tetap menarik apabila The Fed kembali mengerek suku bunga pada akhir tahun. Bagi pelaku pasar modal, rezim suku bunga tinggi ini akan meningkatkan biaya dana (cost of fund) korporasi dalam jangka pendek, namun diperlukan sebagai jangkar stabilitas makroekonomi guna memulihkan kepercayaan investor institusi asing.

Analisis ini adalah pembacaan redaksi atas sebuah berita, dan bukan merupakan saran investasi atau rekomendasi membeli maupun menjual saham tertentu. Harga yang ditampilkan bersifat tertunda dan dapat berbeda dari harga riil di pasar.