Jakarta, Redaksi BeritaSaham.id - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan pertama Agustus 2026 diproyeksikan merespons sejumlah data makroekonomi domestik yang positif serta maraknya aksi korporasi penambahan modal. Sentimen fundamental ini menjadi indikator penting bagi investor dalam memilah saham pilihan hari ini.
Inflasi Melandai dan BI Rate Tertahan
Dari sisi makroekonomi, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi Indonesia periode Juli 2026 yang melandai ke level 2,88% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini turun dibandingkan inflasi Juni 2026 yang sempat menyentuh 3,34% yoy. Secara bulanan, Indonesia mencatatkan deflasi sebesar 0,14% (month to month/mtm), di mana kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi.
Kondisi inflasi yang mulai mereda ini sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur akhir Juli lalu. Stabilitas ini turut mendorong kepercayaan asing. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat aksi beli bersih (net buy) investor asing di bursa saham mencapai Rp1,62 triliun sepanjang Juli 2026.
Pantauan Aksi Korporasi Rights Issue
Selain sentimen ekonomi, pasar juga mencermati sejumlah emiten yang sedang menggelar rights issue atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) pada pekan ini. Aksi ini umumnya menciptakan volatilitas harga saham jangka pendek. Beberapa agenda yang patut diperhatikan antara lain:
- PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA): Emiten properti dan perhotelan ini menggelar rights issue jumbo senilai Rp1,53 triliun yang didukung oleh empat pembeli siaga.
- PT Berlina Tbk (BRNA): Perusahaan manufaktur kemasan ini menerbitkan maksimal 543,95 juta saham baru dengan rasio HMETD 9:5. Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp685 per saham. Manajemen menyatakan dana yang diraih akan dialokasikan untuk restrukturisasi neraca, termasuk menurunkan liabilitas dan meningkatkan ekuitas perseroan.
- PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR): Emiten kendaraan listrik komersial ini sedang dalam masa perdagangan HMETD, di mana tanggal terakhir pelaksanaan jatuh pada 7 Agustus 2026. Hak yang tidak dieksekusi setelah tanggal tersebut akan hangus.
Deretan Saham Pilihan Hari Ini
Mengombinasikan data ekonomi yang dirilis BPS dan katalis aksi korporasi di Bursa Efek Indonesia, berikut adalah saham pilihan hari ini yang layak dicermati oleh investor:
- PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF): Penurunan harga sejumlah komoditas pangan pokok yang memicu deflasi bulanan memberikan sentimen positif bagi emiten consumer goods karena berpotensi menekan beban pokok produksi dan menjaga margin keuntungan.
- Sektor Perbankan (BMRI, BBCA): Keputusan BI mempertahankan suku bunga di angka 5,75% memberikan kepastian bagi cost of fund perbankan, sehingga penyaluran kredit dan margin bunga bersih (Net Interest Margin) dapat tumbuh secara stabil.
- Saham Dalam Masa Rights Issue (BRNA, BUVA, VKTR): Saham-saham ini cocok bagi investor yang mampu mengelola risiko volatilitas. Untuk BRNA, penyelesaian rights issue diharapkan dapat memperbaiki struktur modal setelah perseroan mencatatkan rugi bersih pada paruh pertama 2026.
Ringkasan
- Inflasi Indonesia pada Juli 2026 melandai ke 2,88% yoy, dengan deflasi bulanan 0,14% mtm yang dipicu oleh penurunan harga pangan.
- Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan di level 5,75%.
- Terdapat arus masuk modal asing di pasar saham sebesar Rp1,62 triliun sepanjang Juli 2026.
- Tiga emiten menjadi sorotan rights issue minggu ini: BUVA dengan target Rp1,53 triliun, BRNA dengan rasio 9:5 di harga Rp685/saham, dan periode akhir pelaksanaan HMETD VKTR pada 7 Agustus 2026.
Saham yang berpotensi diuntungkan, menurut interpretasi redaksi atas berita ini.
Arah harga hari ini bisa berbeda dari interpretasi redaksi. Pasar mencerminkan banyak faktor, bukan cuma satu berita ini.
Kombinasi inflasi yang melandai dan suku bunga yang tertahan mengindikasikan stabilnya fundamental makroekonomi Indonesia, yang idealnya direspons positif oleh sektor perbankan dan barang konsumsi. Di sisi lain, maraknya aksi rights issue pekan ini menunjukkan upaya emiten dalam melakukan restrukturisasi utang dan penguatan modal di tengah momentum pasar yang cukup stabil. Investor disarankan memperhatikan secara saksama tujuan penggunaan dana dari setiap aksi HMETD untuk menghindari jebakan dilusi saham.
Analisis ini adalah pembacaan redaksi atas sebuah berita, dan bukan merupakan saran investasi atau rekomendasi membeli maupun menjual saham tertentu. Harga yang ditampilkan bersifat tertunda dan dapat berbeda dari harga riil di pasar.