Jakarta, Redaksi BeritaSaham.id - Taipan batu bara asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, kembali membuat gebrakan besar di pasar modal. Melalui bendera PT Jhonlin Baratama, Haji Isam sepakat untuk mengakuisisi 10 miliar lembar saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang sebelumnya dikempit oleh Low Tuck Kwong dan Elaine Low.
Berdasarkan Keterbukaan Informasi tertanggal 17 September 2026, kesepakatan tersebut tertuang dalam Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (CSPA) yang ditandatangani pada 16 September 2026.
Rincian Transaksi Pengambilalihan Saham
- Pihak Penjual: Dato' Dr. Low Tuck Kwong dan Elaine Low.
- Pihak Pembeli: PT Jhonlin Baratama.
- Jumlah Saham: 10.000.000.500 (sepuluh miliar lima ratus) saham biasa.
- Porsi Kepemilikan: Setara 30% dari total 33,33 miliar saham beredar BYAN.
- Tanggal CSPA: 16 September 2026.
Estimasi Harga Diskon Valuasi
Meski manajemen tidak merinci secara spesifik nilai transaksi penandatanganan kesepakatan tersebut di dalam keterbukaan informasinya, pelaku pasar meyakini pengambilalihan ini dieksekusi pada valuasi yang sangat miring. Berdasarkan kalkulasi pasar, nilai keseluruhan transaksi akuisisi atas 10 miliar lembar saham tersebut diperkirakan kurang dari Rp60 triliun. Angka ini menegaskan bahwa harga borongan yang disepakati berada jauh di bawah separuh harga pasar, mengingat posisi saham reguler BYAN saat ini bertengger di kisaran Rp13.825 per lembar.
Syarat Pendahuluan dan Dampak Operasional
Direktur Bayan Resources, Jenny Quantero dan Alastair McLeod, menyatakan bahwa penyelesaian transaksi pengalihan saham ini masih tunduk pada pemenuhan beberapa syarat pendahuluan. Setelah seluruh syarat terpenuhi, pembeli akan resmi memiliki 10 miliar saham tersebut.
Masuknya Jhonlin Group milik Haji Isam sebagai pemegang saham strategis di Bayan Resources berpotensi memperkuat dominasi dan menciptakan sinergi operasional antar-raksasa batu bara di Kalimantan. Dengan total transaksi yang ditaksir kurang dari Rp60 triliun, aksi korporasi ini dinilai sangat menguntungkan bagi pihak pembeli serta mengisyaratkan adanya prospek konsolidasi bisnis di sektor energi dengan valuasi yang sangat atraktif.
Analisis ini adalah pembacaan redaksi atas sebuah berita, dan bukan merupakan saran investasi atau rekomendasi membeli maupun menjual saham tertentu. Harga yang ditampilkan bersifat tertunda dan dapat berbeda dari harga riil di pasar.