Jakarta, BeritaSaham.id - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham dengan alokasi dana maksimal sebesar Rp627 miliar. Langkah strategis ini diambil manajemen untuk merespons fluktuasi pasar yang signifikan sekaligus meredam tekanan jual yang membayangi pergerakan saham BBNI.
Mengutip keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (28/7/2026), pelaksanaan aksi korporasi ini dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan, yakni mulai 27 Juli hingga 26 Oktober 2026.
Sekretaris Perusahaan BBNI, Okki Rushartomo, menjelaskan bahwa buyback akan dilakukan menggunakan kas internal perseroan secara bertahap maupun sekaligus. Perseroan melaksanakan aksi ini merujuk pada Surat OJK No. S-10/D.04/2026 dan ketentuan POJK Nomor 13/2023. Dengan adanya relaksasi aturan di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi, perseroan tidak perlu meminta persetujuan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terlebih dahulu.
Rincian Pelaksanaan dan Struktur Biaya
Dalam pelaksanaannya, BBNI menetapkan sejumlah parameter dan struktur anggaran agar tidak mengganggu operasional inti perseroan:
- Nilai Maksimal Buyback: Rp627 miliar
- Batas Maksimal Saham: Tidak melebihi 20% dari total modal disetor
- Estimasi Biaya Transaksi: Maksimal 0,30% dari perkiraan nilai buyback (termasuk komisi perantara pedagang efek)
- Sumber Dana: Kas internal BBNI
Proyeksi Dampak terhadap Posisi Keuangan
Manajemen BNI memastikan bahwa penggunaan dana Rp627 miliar tidak akan memberikan dampak negatif yang material terhadap kegiatan usaha perseroan. Berdasarkan simulasi yang dilakukan perseroan, proyeksi keuangan setelah pelaksanaan buyback adalah sebagai berikut:
Total Aset
Rp1.365,36 triliun menjadi Rp1.364,74 triliun
Total Ekuitas
Rp160,99 triliun menjadi Rp160,37 triliun
Laba Bersih
Rp9,05 triliun menjadi Rp9,05 triliun (Tidak terdampak material)
BBNI menegaskan bahwa modal dan arus kas (cash flow) yang dimiliki masih sangat mencukupi untuk menjalankan aksi buyback secara paralel dengan penyaluran kredit dan kegiatan usaha utama bank.
Valuasi Merespons Koreksi Harga
Hingga periode pengumuman ini diterbitkan, pergerakan saham BBNI telah mencatatkan koreksi sebesar 19,45% secara year-to-date (YTD) akibat volatilitas di pasar modal. Berdasarkan kalkulasi pasar terkini, valuasi saham BBNI berada di tingkat yang cukup rendah dengan Price to Book Value (PBV) di kisaran 0,81 kali dan Price to Earnings Ratio (PER) sebesar 5,8 kali.
Keputusan BBNI melancarkan buyback senilai Rp627 miliar merupakan langkah taktis yang wajar diambil oleh manajemen di tengah koreksi saham yang menyentuh hampir 20% sepanjang tahun berjalan (YTD). Dengan rasio Price to Book Value (PBV) yang sudah terdiskon hingga 0,81x, manajemen mengirimkan sinyal kuat kepada investor bahwa saham perseroan saat ini sedang undervalued alias berada di bawah nilai wajar fundamentalnya.
Analisis ini adalah pembacaan redaksi atas sebuah berita, dan bukan merupakan saran investasi atau rekomendasi membeli maupun menjual saham tertentu. Harga yang ditampilkan bersifat tertunda dan dapat berbeda dari harga riil di pasar.