Dark
Light

Sawit di Ambang Tantangan: Kiprah Astra Agro Lestari yang Tetap Solid

18 Februari 2024
perkebunan sawit saham AALI

Saham perusahaan perkebunan sawit terkemuka, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), terus menghadapi tekanan penurunan sejak awal tahun 2024. Meski demikian, Direktur Utama Astra Agro Lestari, Santosa, menegaskan bahwa penurunan ini tidak mencerminkan performa operasional perusahaan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (16/2), saham AALI diperdagangkan di zona merah, mengalami penurunan sebesar 0,36% ke level Rp 6.825 dibandingkan hari sebelumnya. Penurunan juga terjadi dalam jangka waktu sepekan sebesar 0,73%, dan dalam sebulan sebesar 4,55%. Dalam catatan Year to Date (YtD), harga saham AALI terkoreksi sebesar 2,85%.

Santosa menjelaskan dalam acara “Talk with CEO Astra Agro Lestari” di Bandung bahwa manajemen tidak melibatkan diri dalam dinamika harga saham, dan penurunan ini tidak berkaitan dengan performa operasional perusahaan. Menurutnya, penurunan harga saham bukan hanya dialami AALI tetapi juga emiten-emiten sawit lainnya.

“Kalau hanya AALI saja yang harganya turun, boleh diartikan kinerja AALI jelek, tetapi ini semua perusahaan sawit,” ujar Santosa.

Menurut Santosa, sentimen penurunan harga saham juga dipengaruhi oleh harga komoditas sawit di pasar global. Meskipun demikian, kinerja Astra Agro Lestari tetap tumbuh positif, dengan produksi tandan buah segar (TBS) inti mencapai 3,31 juta ton pada 2023, naik 4,8% dibandingkan tahun sebelumnya.

Santosa optimistis bahwa produksi sawit perseroan akan tetap stabil tahun ini, seiring dengan normalisasi rotasi panen. Dia juga mengungkapkan strategi perusahaan untuk menjaga pertumbuhan, termasuk optimalisasi pembelian TBS dari petani sekitar pabrik AALI dan peningkatan produktivitas lahan inti.

“Kami tidak tinggal diam. Untuk mengejar pertumbuhan penjualan CPO, kami upayakan optimalisasi pembelian TBS dari para petani. Kami juga meningkatkan produktivitas lahan inti kami,” ungkap Santosa.

Astra Agro Lestari juga mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 1,5 triliun di tahun 2024. Santosa menjelaskan bahwa sebagian besar dari dana tersebut akan digunakan untuk peremajaan tanaman sawit atau replanting serta perawatan tanaman yang belum menghasilkan (TBM).

Meski menghadapi tekanan harga saham, Astra Agro Lestari tetap menunjukkan komitmen untuk menjaga stabilitas operasional dan meningkatkan pertumbuhan bisnisnya di tengah dinamika pasar global yang tidak pasti.

Latest Posts

Go toTop