Dark
Light

Konsumsi Minyak Sawit Melonjak, Ekspor Terpukul!

27 Februari 2024

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat adanya penurunan volume ekspor minyak sawit dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, penurunan ini terutama disebabkan oleh peningkatan konsumsi dalam negeri untuk berbagai kebutuhan seperti pangan, biodiesel, dan oleochemical.

Data Ekspor Menunjukkan Penurunan Signifikan

Menurut catatan GAPKI, ekspor produk CPO (Crude Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil) mengalami penurunan sebesar 2,38%, dari 33,15 juta ton di 2022 menjadi 32,21 juta ton di 2023. Penurunan terbesar terjadi dalam ekspor ke Uni Eropa, mencapai 11,6%.

Namun, terdapat peningkatan dalam ekspor ke beberapa negara seperti Afrika (33%), China (23%), India (8%), dan Amerika Serikat (10%). Meskipun demikian, penurunan total volume ekspor mengindikasikan adanya perubahan signifikan dalam dinamika perdagangan minyak sawit Indonesia.

Faktor Penyebab Penurunan Ekspor

Eddy Martono menjelaskan bahwa salah satu faktor utama penurunan ekspor adalah meningkatnya konsumsi dalam negeri. Konsumsi minyak sawit dalam negeri naik sebesar 8,90%, mencapai 23,13 juta ton di 2023 dari 21,24 juta ton di 2022. Konsumsi ini kini menyumbang sekitar 40-50% dari total produksi minyak sawit.

Peran Kebijakan Biodiesel (B35) dalam Peningkatan Konsumsi

Implementasi kebijakan Biodiesel (B35) pada Juli 2022 efektif meningkatkan konsumsi minyak sawit sebesar 17,68%, dari 9,04 juta ton di 2022 menjadi 10,65 juta ton di 2023. Hal ini membuat konsumsi biodiesel melampaui konsumsi untuk pangan dalam negeri.

“Konsumsi kita naik terus. Sekarang ini konsumsi biodiesel sudah melampaui konsumsi untuk pangan,” ujar Eddy Martono.

Tantangan di Tengah Produksi yang Stagnan

Tingginya konsumsi dalam negeri diimbangi dengan produksi yang relatif stagnan selama 2019-2022. Hanya pada 2023, produksi sedikit lebih tinggi mencapai 50,07 juta ton atau naik 7,15%, berkat penambahan areal tanaman menghasilkan (TM).

Eddy mengingatkan bahwa ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi bisa menimbulkan persaingan antara pangan dan energi di masa depan. Oleh karena itu, perlu adanya langkah-langkah strategis untuk menjaga keseimbangan ini.

Penurunan volume ekspor minyak sawit Indonesia sebagai dampak dari peningkatan konsumsi dalam negeri menjadi tantangan serius. Sementara kebijakan biodiesel berhasil meningkatkan konsumsi, perlu dilakukan langkah-langkah strategis agar produksi dapat mengikuti laju konsumsi tanpa mengorbankan keberlanjutan dan keseimbangan antara sektor pangan dan energi.

Latest Posts

Go toTop